Malam itu, Jamaludin (13) menggigil. Seperti malam-malam lainnya, udara dingin terasa menusuk tulangnya. Sehelai kain sarung melekat di tubuhnya. Bersama 30 anak, ia tidur berdesakan di kamar berukuran 4x3 meter beratapkan asbes dan berdinding triplek tanpa dipulas cat. Beberapa helai kasur busa yang tipis dan kumal menjadi rebutan menjelang malam. Satu buah kasur lainnya disulap menjadi beberapa buah bantal agar tidur lebih nyaman.
Tatapan mata bocah lelaki berkulit legam itu tajam seakan hendak menembus kelamnya langit. Dari Pulau Buaya, Kab. Alor, Nusa Tenggara Timur, Jamaludin kini terdampar di Panti Asuhan Pemberdayaan Umat, Jln. Suniaraja, Gg. Apandi III No. 74/11A, Kota Bandung. Bersama 18 bocah lainnya, ia meninggalkan sanak saudara di kampung penuh konflik agama demi sebuah cita-cita, yaitu mengecap bangku sekolah. ”Saya ditawari ke Bandung oleh paman karena ingin sekolah. Di Pulau Buaya, saya berhenti sekolah karena takut. Di sana sering terjadi perkelahian,” tutur Jamaludin yang kini duduk di bangku kelas I Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Bandung.
Jamaludin tak sendiri. Dari Alor, juga ada Rahmat Rahim (21), Yakin (20), dan 15 anak lainnya. Mereka kini menuntut ilmu di berbagai SD, MTs, dan Madrasah Aliyah (MA) di Kota Bandung. Menurut Ketua Yayasan Pemberdayaan Umat (YPU), Indradjit Pandjisen, YPU sengaja tidak menyekolahkan anak-anak penghuni panti asuhan ke sekolah berstatus negeri. ”Karena biayanya lebih mahal. Dan sekolah negeri itu malah lebih sadis dalam soal biaya sekolah,” ujarnya.
Setiap hari, 35 anak itu tidak pernah dibekali ongkos sekolah atau uang jajan. Mereka setiap hari pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki. Di sekolah pun tak pernah jajan. Bahkan, mereka harus menyalin soal-soal yang terdapat di buku lembar kerja siswa (LKS) agar bisa mengerjakan pekerjaan rumah (PR). ”Kami tak diberi uang untuk beli LKS. Kami pinjam LKS punya teman untuk kami salin isinya dengan cara ditulis,” ucap Rahmat Rahim.
Rumah kontrakan yang sekaligus menjadi kantor YPU itu dihuni 30 anak laki-laki, 5 anak perempuan, dan seorang pengasuh yang bernama Mak Dodoh (45). Anak-anak lainnya berasal dari wilayah Kab. Bandung dan 10 anak lainnya dari Kota Bandung. ”Yang dari Kota Bandung masih pada tinggal dengan keluarga kandungnya. Karena dekat, jadi mereka dipersilakan tinggal bersama keluarganya. Dekat bersama orangtua kandungnya adalah hak asasi anak,” ucapnya.
Sejak tahun 2005, Indradjit menyulap rumah tak terurus itu menjadi panti asuhan. Awalnya, ia menampung 27 anak yang terpaksa tinggal di ruangan beratap bocor berukuran 6x9 meter. Setelah terkumpul dana dari beberapa donatur, Indradjit membangun rumah kontrakan itu menjadi dua tingkat. Di lantai bawah digunakan sebagai ruang sarana bersosialisasi anak. Dilengkapi satu buah pesawat televisi berwarna berukuran 17 inch dan beberapa lembar tikar. Sementara ruangan di lantai dua disekat menjadi empat bagian. Kamar tidur anak laki-laki, kamar tidur anak perempuan, kamar tidur Mak Dodoh, dan gudang penyimpanan makanan.
Setiap hari, sedikitnya 13 kilogram beras ditanak untuk keperluan makan. Lauk pauk yang dimakan berkisar di tahu tempe, sayuran, dan mie instan hasil sumbangan para donatur dan masyarakat. ”Sudah lama sekali tidak makan ikan dan buah-buahan,” ucap Jamaludin.
Indradjit merasa terjepit jika waktu menjelang tahun ajaran baru. Selain biaya operasional sehari-hari panti yang mencapai Rp 3 juta/bulan, ia harus memutar akal agar memperoleh keringanan dalam pembayaran uang sekolah.
Meski begitu, ketika ”PR” bertanya tentang barang apa yang paling dibutuhkan, anak-anak penghuni panti begitu antusias menjawab. ”Kasur dan selimut!,” ucap mereka serentak diiringi derai tawa.
Minggu, 07 September 2008
Rabu, 23 Januari 2008
Si Pawang Air
MUSIM hujan adalah musim yang dinanti Yudi (30). Sampah yang melimpah terbawa air sungai adalah berkah baginya. Dilahirkan di rumah tepian sungai Citepus, sejak usia 14 tahun, ia menekuni profesi sebagai pemburu rongsokan alias burok, demikian masyarakat disana menyebutnya.
Pria tamatan SMP ini, bisa mengail sampah plastik sebanyak lima sampai tujuh kilogram per harinya. Setelah terkumpul dan dipilah, sampah plastik dan botol-botol itu dijualnya ke bandar rongsokan seharga Rp 2.000,00 per kilogram. “Lumayan, untuk membeli makan dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Yudi yang menjadi tulang punggung keluarga itu.
Bukan hal yang gampang mengail sampah di tengah arus sungai yang deras. Kedua bola mata harus senantiasa siaga dan jeli melihat sampah yang tengah melaju. Jika melihat sampah yang termasuk dalam kategori bisa dijual, seketika itu sel saraf motorik harus segera mengomando lengan untuk melemparkan kail yang dibuat khusus agar sampah itu tidak lepas dari cengkraman.
Jika tidak biasa, aktivitas seperti ini akan membuat pusing kepala. Alih-alih mendapat rongsokan, kita akan tercebur ke sungai dibuatnya. Tidak hanya Yudi yang mengais rezeki dari rongsokan di sungai. Beberapa warga lainnya di RT 09 RW 03 Kel. Bojong Loa, Kec. Bojong Loa Kidul, juga menekuni profesi sebagai burok.
Bagi dia, pekerjaan ini sudah menjadi panggilan hati dan kewajiban untuk menghidupi ibu dan satu orang adiknya. Jika musim kemarau tiba, kail disimpan. Yudi, ditemani adiknya yang masih sekolah dibangku SMP, turun ke sungai untuk memunguti sampah-sampah yang layak dijual.
Selama lebih dari 12 tahun menggeluti dunia burok, Yudi mengaku pernah menemukan handphone sebanyak empat kali. Selain itu, barang berharga lainnya yang pernah ia temukan antara lain jam tangan, barang antik yang terbuat dari kuningan, bahkan uang tunai.
Untuk melancarkan usahanya itu, Yudi giat mengontrol pintu air sungai yang terletak dekat rumahnya. Setiap hari, ia harus jeli melihat debit air sungai. Ia tahu kapan pintu air semestinya dibuka dan kapan harus ditutup dengan intensitas yang berbeda-beda sesuai keadaan. “Pagi-pagi dibuka, malam dibuka sedikit. Kalau musim hujan, lebih sering ngontrol karena sampah semakin banyak,” ujarnya.
Atas jasanya mengontrol aliran sungai itu, Yudi tak pernah diupah oleh siapa pun. Ia seolah terpanggil untuk memastikan agar tidak terjadi banjir karena ia telat membuka pintu air. Julukan “Si Pawang Air” dari masyarakat sekitar pun melekat. Kendati demikian, tak pernah terlintas di pikirannya sedikit pun untuk menjadi pegawai instansi pengairan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. (Lina Nursanty/”PR”)***
Pria tamatan SMP ini, bisa mengail sampah plastik sebanyak lima sampai tujuh kilogram per harinya. Setelah terkumpul dan dipilah, sampah plastik dan botol-botol itu dijualnya ke bandar rongsokan seharga Rp 2.000,00 per kilogram. “Lumayan, untuk membeli makan dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Yudi yang menjadi tulang punggung keluarga itu.
Bukan hal yang gampang mengail sampah di tengah arus sungai yang deras. Kedua bola mata harus senantiasa siaga dan jeli melihat sampah yang tengah melaju. Jika melihat sampah yang termasuk dalam kategori bisa dijual, seketika itu sel saraf motorik harus segera mengomando lengan untuk melemparkan kail yang dibuat khusus agar sampah itu tidak lepas dari cengkraman.
Jika tidak biasa, aktivitas seperti ini akan membuat pusing kepala. Alih-alih mendapat rongsokan, kita akan tercebur ke sungai dibuatnya. Tidak hanya Yudi yang mengais rezeki dari rongsokan di sungai. Beberapa warga lainnya di RT 09 RW 03 Kel. Bojong Loa, Kec. Bojong Loa Kidul, juga menekuni profesi sebagai burok.
Bagi dia, pekerjaan ini sudah menjadi panggilan hati dan kewajiban untuk menghidupi ibu dan satu orang adiknya. Jika musim kemarau tiba, kail disimpan. Yudi, ditemani adiknya yang masih sekolah dibangku SMP, turun ke sungai untuk memunguti sampah-sampah yang layak dijual.
Selama lebih dari 12 tahun menggeluti dunia burok, Yudi mengaku pernah menemukan handphone sebanyak empat kali. Selain itu, barang berharga lainnya yang pernah ia temukan antara lain jam tangan, barang antik yang terbuat dari kuningan, bahkan uang tunai.
Untuk melancarkan usahanya itu, Yudi giat mengontrol pintu air sungai yang terletak dekat rumahnya. Setiap hari, ia harus jeli melihat debit air sungai. Ia tahu kapan pintu air semestinya dibuka dan kapan harus ditutup dengan intensitas yang berbeda-beda sesuai keadaan. “Pagi-pagi dibuka, malam dibuka sedikit. Kalau musim hujan, lebih sering ngontrol karena sampah semakin banyak,” ujarnya.
Atas jasanya mengontrol aliran sungai itu, Yudi tak pernah diupah oleh siapa pun. Ia seolah terpanggil untuk memastikan agar tidak terjadi banjir karena ia telat membuka pintu air. Julukan “Si Pawang Air” dari masyarakat sekitar pun melekat. Kendati demikian, tak pernah terlintas di pikirannya sedikit pun untuk menjadi pegawai instansi pengairan di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. (Lina Nursanty/”PR”)***
Berbagi Suami
Berbagi Suami dengan Bayi Terlantar
Suatu hari, sebuah kantung plastik berwarna hitam berisi beberapa sabun mandi batang tergantung di pintu pagar sebuah rumah. Di hari yang lain, sekantung sayuran dan aneka buah-buahan menggantung di tempat yang sama. Begitulah cara Allah memberikan rezekinya di kediaman Achmad Badawi Rifai di Blok M8 Komplek Kopo Permai I, Kota Bandung.
Meski keluarga Badawi tidak tahu siapa pengirimnya, namun para pengirim rezeki misterius itu tahu bahwa di rumah Badawi ada empat bayi laki-laki dan dua bayi perempuan yang ditelantarkan orangtuanya karena berbagai alasan. Sejak awal 2004 lalu, satu per satu bayi-bayi itu berdatangan ke rumah Badawi. Meski sudah memiliki empat orang anak, keluarga Badawi tak segan mengambil bayi-bayi itu untuk diurusnya bak anggota keluarga sendiri.
Sang isteri, Hj. Endang Yuli Purwadi, tidak pernah bisa mengingkari suara hatinya untuk mengambil dan mengurus anak-anak terlantar itu. Niat baiknya itu menimbulkan simpati banyak pihak di sekitar lingkungannya hingga ia dikenal sebagai ibu Badawi yang banyak anaknya. Karena hal itu, berkali-kali, Yuli didatangi reporter dari berbagai media namun ia tak pernah mau diwawancarai karena takut berunsur riya/takabur. Setelah diyakinkan rekan-rekannya bahwa itu untuk keperluan dakwah, akhirnya Yuli bersedia diwawancarai “PR”.
Suatu hari di tahun 2003, tak lama setelah ia melahirkan puteri bungsunya, Salsa, ia mendapati seorang bayi yang ditinggalkan orangtuanya di seorang peraji (dukun melahirkan). “Saya tidak mungkin meninggalkan anak itu sendiri, akhirnya saya ambil anak tersebut,” ungkap Yuli yang kini menjadi guru di SMUN 4 Bandung itu.
Bayi yang kemudian dinamai Mohammad Azzam itu dalam kondisi mengkhawatirkan. Usianya tatkala itu masih satu hari. Berat badannya tak sampai dua kilogram. “Saya dimarahi dokter habis-habisan karena disangka menelantarkan anaknya. Setelah tahu, bahwa anak itu bukan anak saya, dokter itu pun berhenti ngomel,” ujarnya mengenang.
Enam bulan kemudian, datang seorang ibu yang berprofesi sebagai pengamen. Ia menyerahkan bayinya karena merasa tidak akan mampu membesarkannya. Berselang satu bulan, bayi perempuan nan cantik bernama Saina diserahkan keluarganya karena dianggap aib. Demikian seterusnya hingga kini bayi-bayi itu berdatangan.
Tiap bayi membawa kisah yang berbeda yang memberinya pelajaran tentang kehidupan. Ada yang ditinggalkan begitu saja tanpa tahu siapa dan dimana orang tuanya, ada juga yang sengaja dititipkan karena orangtuanya tidak mampu, atau ada juga yang dibuang agar tidak diketahui orangtuanya dan berdalih membuang aib.
Bagi keluarga Badawi, label anak haram itu tidak berlaku. Menurut Yuli, bagaimana dan dengan cara apapun anak itu dilahirkan, ia tetap berhak hidup dan dibesarkan dengan layak dan penuh kasih sayang. Itulah mengapa Yuli tak membedakan cara dan fasilitas antara anak kandungnya dengan bayi-bayi itu.
Dari mulai merk susu, jenis pakaian, kuantitas dan kualitas makanan, hingga dokter khusus yang menangani kesehatan, berlaku sama untuk tiap anak. Sebagai sarana bermain, ia tak kehabisan akal. Garasi mobil disulap menjadi arena bermain anak. “Setiap mobil berangkat, kami gelar karpet plastik untuk tempat bermain anak,” tuturnya.
Setiap hari, menu makan wajib memenuhi kaidah empat sehat lima sempurna. Meski sedikit, daging, sayur dan buah-buahan harus ada. Para pengasuh yang kini berjumlah tiga orang dilarang keras memberi anak-anak itu makanan instan. “Sebulan sekali pun kami tidak boleh memberi anak-anak mie instan,” tutur salah seorang pengasuh, Tati.
Selain itu, meski tinggal di rumah, anak-anak tidak dibiasakan menonton tayangan TV. Mereka hanya boleh menonton tayangan VCD berisi materi-materi pendidikan anak. Entah seminggu atau dua minggu sekali, anak-anak diajak berekreasi ke luar. Mereka dikenalkan dengan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Ia tidak memungkiri, hal itu sangat menyedot biaya. Gaji Yuli sebagai seorang PNS dan Badawi sebagai karyawan PT LEN tentu tak dapat menutupi biaya yang dibutuhkan. Satu keyakinan yang dipegang erat pasangan Badawi, asal ikhlas maka rezeki dari Allah SWT pasti akan datang.
Kini, kebutuhan membeli susu bayi yang besarnya hingga Rp 2 juta per bulannya sudah ditanggung salah seorang rekannya yang menjadi donatur tetap. “Selain memberi dana tetap per bulannya, rumah kami yang ditempati ini lantai satu dibangun oleh keluarga H. Syahir Karim yang menjadi pengusaha sejadah di Bandung,” tutur Badawi.
Belum lagi, infaq dan sedekah dari mulai tukang sayur seperti Mang Oyip, anggota majelis ta’lim Baiturahiim yang dekat dengan rumahnya, sampai penginfaq misterius terus berdatangan. “Kadang ketika pagi harinya kami sudah kehabisan beras, tiba-tiba siang harinya sudah ada yang mengirim beras entah dari mana,” ujarnya.
Untuk memudahkan penyerahan donasi, mereka mulai mengorganisasikannya dengan mendirikan Yayasan Sosial Pendidikan/Rumah Bayi Sehat Daruulhaniin. Meski sudah mengantongi akta notaris, keluarga Badawi belum berkenan memasang plang di depan rumahnya. “Kami masih belum sreg aja pasang plang. Karena di sini kami adalah keluarga,” ujar ibu dari 54 anak asuh yang diambilnya sejak duduk di bangku kuliah ini.
Di rumah itu, kini Badawi tinggal bersama isteri dan 16 anggota keluarganya. Tiap hari diwarnai kebahagiaan dan kasih sayang. Anak-anak yang kini mulai beranjak balita siap menyambut dengan kelucuannya. Meski begitu, Badawi tetap akan memberitahu kepada anak-anak tersebut mengenai asal usulnya. Selain itu, mereka tidak berhak melarang jika kelak anak-anak tersebut ingin kembali ke orangtuanya. Bahkan, kini mereka tengah belajar ke Panti Asuhan Muhammadiyah mengenai cara membuat akta kelahiran bagi anak-anak tersebut.
Yang terpenting dari itu semua, niat Yuli adalah ingin berbagi suaminya dengan bayi-bayi terlantar itu. Menurut dia, bayi-bayi itu tidak hanya berhak diasuh dan dibesarkan, melainkan juga berhak memiliki keluarga utuh dan sumber kasih sayang dari seorang ayah dan ibu. “Saya bersyukur diberi suami yang soleh. Andaikan semua anak mempunyai ayah sesoleh suami saya,” ujarnya.
Laboratorium
Berkah datang tak pernah berhenti setelah di rumahnya banyak dihuni bayi. Untuk keperluan pendidikan agama, rumah Badawi kini menjadi laboratorium Rumah Qur’ani yang mempunyai program Hafalan Qur’an sejak usia 3 tahun. “Bayi-bayi yang sudah menginjak usia tiga tahun diajari hafalan Qur’an, kami tidak bayar sedikitpun karena anak-anak jadi laboratoriumnya,” ujarnya.
Selain itu, tamu-tamu dari berbagai kalangan selalu datang tiap hari. Ketika “PR” bertandang, jadwal kunjungan ke rumah Badawi sudah padat hingga 10 November mendatang. Mereka bermain bersama anak-anak, berbagi, bahkan tak segan ikut memandikan dan menyuapi anak-anak.
Hal itu semula dilakukan empat siswa SMUN 4 Bandung--anak didik Yuli di sekolah-- yang sedang bermasalah dengan orangtuanya hingga berimbas ke konsentrasi belajar di sekolah. Kemudian, Yuli mengajak keempat siswa tersebut untuk bertandang ke rumahnya bertemu dengan bayi-bayi lucu itu.
Keempat siswa itu menginap di rumahnya. Tengah malam, mereka dibangunkan untuk menunaikan salat Tahajud di masjid. “Mereka ikut memandikan, memberi makan, menemani anak-anak bermain, dan ketika diceritakan asal usulnya mereka jadi termenung dan menyadari kesalahannya,” ujar Yuli.
Tak lama setelah itu, Yuli menerima banyak ucapan terimakasih dari para orangtua siswa yang pernah bertandang ke rumahnya. “Mereka telefon saya dan bertanya mengapa anaknya jadi berubah baik. Saya senang sekali mendengar hal itu,” ucapnya penuh rasa syukur. Kini, kunjungan serupa tidak hanya datang dari siswa-siswinya di SMUN 4, melainkan mahasiswa dan kalangan pendidik. (Lina Nursanty/”PR”)
Suatu hari, sebuah kantung plastik berwarna hitam berisi beberapa sabun mandi batang tergantung di pintu pagar sebuah rumah. Di hari yang lain, sekantung sayuran dan aneka buah-buahan menggantung di tempat yang sama. Begitulah cara Allah memberikan rezekinya di kediaman Achmad Badawi Rifai di Blok M8 Komplek Kopo Permai I, Kota Bandung.
Meski keluarga Badawi tidak tahu siapa pengirimnya, namun para pengirim rezeki misterius itu tahu bahwa di rumah Badawi ada empat bayi laki-laki dan dua bayi perempuan yang ditelantarkan orangtuanya karena berbagai alasan. Sejak awal 2004 lalu, satu per satu bayi-bayi itu berdatangan ke rumah Badawi. Meski sudah memiliki empat orang anak, keluarga Badawi tak segan mengambil bayi-bayi itu untuk diurusnya bak anggota keluarga sendiri.
Sang isteri, Hj. Endang Yuli Purwadi, tidak pernah bisa mengingkari suara hatinya untuk mengambil dan mengurus anak-anak terlantar itu. Niat baiknya itu menimbulkan simpati banyak pihak di sekitar lingkungannya hingga ia dikenal sebagai ibu Badawi yang banyak anaknya. Karena hal itu, berkali-kali, Yuli didatangi reporter dari berbagai media namun ia tak pernah mau diwawancarai karena takut berunsur riya/takabur. Setelah diyakinkan rekan-rekannya bahwa itu untuk keperluan dakwah, akhirnya Yuli bersedia diwawancarai “PR”.
Suatu hari di tahun 2003, tak lama setelah ia melahirkan puteri bungsunya, Salsa, ia mendapati seorang bayi yang ditinggalkan orangtuanya di seorang peraji (dukun melahirkan). “Saya tidak mungkin meninggalkan anak itu sendiri, akhirnya saya ambil anak tersebut,” ungkap Yuli yang kini menjadi guru di SMUN 4 Bandung itu.
Bayi yang kemudian dinamai Mohammad Azzam itu dalam kondisi mengkhawatirkan. Usianya tatkala itu masih satu hari. Berat badannya tak sampai dua kilogram. “Saya dimarahi dokter habis-habisan karena disangka menelantarkan anaknya. Setelah tahu, bahwa anak itu bukan anak saya, dokter itu pun berhenti ngomel,” ujarnya mengenang.
Enam bulan kemudian, datang seorang ibu yang berprofesi sebagai pengamen. Ia menyerahkan bayinya karena merasa tidak akan mampu membesarkannya. Berselang satu bulan, bayi perempuan nan cantik bernama Saina diserahkan keluarganya karena dianggap aib. Demikian seterusnya hingga kini bayi-bayi itu berdatangan.
Tiap bayi membawa kisah yang berbeda yang memberinya pelajaran tentang kehidupan. Ada yang ditinggalkan begitu saja tanpa tahu siapa dan dimana orang tuanya, ada juga yang sengaja dititipkan karena orangtuanya tidak mampu, atau ada juga yang dibuang agar tidak diketahui orangtuanya dan berdalih membuang aib.
Bagi keluarga Badawi, label anak haram itu tidak berlaku. Menurut Yuli, bagaimana dan dengan cara apapun anak itu dilahirkan, ia tetap berhak hidup dan dibesarkan dengan layak dan penuh kasih sayang. Itulah mengapa Yuli tak membedakan cara dan fasilitas antara anak kandungnya dengan bayi-bayi itu.
Dari mulai merk susu, jenis pakaian, kuantitas dan kualitas makanan, hingga dokter khusus yang menangani kesehatan, berlaku sama untuk tiap anak. Sebagai sarana bermain, ia tak kehabisan akal. Garasi mobil disulap menjadi arena bermain anak. “Setiap mobil berangkat, kami gelar karpet plastik untuk tempat bermain anak,” tuturnya.
Setiap hari, menu makan wajib memenuhi kaidah empat sehat lima sempurna. Meski sedikit, daging, sayur dan buah-buahan harus ada. Para pengasuh yang kini berjumlah tiga orang dilarang keras memberi anak-anak itu makanan instan. “Sebulan sekali pun kami tidak boleh memberi anak-anak mie instan,” tutur salah seorang pengasuh, Tati.
Selain itu, meski tinggal di rumah, anak-anak tidak dibiasakan menonton tayangan TV. Mereka hanya boleh menonton tayangan VCD berisi materi-materi pendidikan anak. Entah seminggu atau dua minggu sekali, anak-anak diajak berekreasi ke luar. Mereka dikenalkan dengan alam sebagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Ia tidak memungkiri, hal itu sangat menyedot biaya. Gaji Yuli sebagai seorang PNS dan Badawi sebagai karyawan PT LEN tentu tak dapat menutupi biaya yang dibutuhkan. Satu keyakinan yang dipegang erat pasangan Badawi, asal ikhlas maka rezeki dari Allah SWT pasti akan datang.
Kini, kebutuhan membeli susu bayi yang besarnya hingga Rp 2 juta per bulannya sudah ditanggung salah seorang rekannya yang menjadi donatur tetap. “Selain memberi dana tetap per bulannya, rumah kami yang ditempati ini lantai satu dibangun oleh keluarga H. Syahir Karim yang menjadi pengusaha sejadah di Bandung,” tutur Badawi.
Belum lagi, infaq dan sedekah dari mulai tukang sayur seperti Mang Oyip, anggota majelis ta’lim Baiturahiim yang dekat dengan rumahnya, sampai penginfaq misterius terus berdatangan. “Kadang ketika pagi harinya kami sudah kehabisan beras, tiba-tiba siang harinya sudah ada yang mengirim beras entah dari mana,” ujarnya.
Untuk memudahkan penyerahan donasi, mereka mulai mengorganisasikannya dengan mendirikan Yayasan Sosial Pendidikan/Rumah Bayi Sehat Daruulhaniin. Meski sudah mengantongi akta notaris, keluarga Badawi belum berkenan memasang plang di depan rumahnya. “Kami masih belum sreg aja pasang plang. Karena di sini kami adalah keluarga,” ujar ibu dari 54 anak asuh yang diambilnya sejak duduk di bangku kuliah ini.
Di rumah itu, kini Badawi tinggal bersama isteri dan 16 anggota keluarganya. Tiap hari diwarnai kebahagiaan dan kasih sayang. Anak-anak yang kini mulai beranjak balita siap menyambut dengan kelucuannya. Meski begitu, Badawi tetap akan memberitahu kepada anak-anak tersebut mengenai asal usulnya. Selain itu, mereka tidak berhak melarang jika kelak anak-anak tersebut ingin kembali ke orangtuanya. Bahkan, kini mereka tengah belajar ke Panti Asuhan Muhammadiyah mengenai cara membuat akta kelahiran bagi anak-anak tersebut.
Yang terpenting dari itu semua, niat Yuli adalah ingin berbagi suaminya dengan bayi-bayi terlantar itu. Menurut dia, bayi-bayi itu tidak hanya berhak diasuh dan dibesarkan, melainkan juga berhak memiliki keluarga utuh dan sumber kasih sayang dari seorang ayah dan ibu. “Saya bersyukur diberi suami yang soleh. Andaikan semua anak mempunyai ayah sesoleh suami saya,” ujarnya.
Laboratorium
Berkah datang tak pernah berhenti setelah di rumahnya banyak dihuni bayi. Untuk keperluan pendidikan agama, rumah Badawi kini menjadi laboratorium Rumah Qur’ani yang mempunyai program Hafalan Qur’an sejak usia 3 tahun. “Bayi-bayi yang sudah menginjak usia tiga tahun diajari hafalan Qur’an, kami tidak bayar sedikitpun karena anak-anak jadi laboratoriumnya,” ujarnya.
Selain itu, tamu-tamu dari berbagai kalangan selalu datang tiap hari. Ketika “PR” bertandang, jadwal kunjungan ke rumah Badawi sudah padat hingga 10 November mendatang. Mereka bermain bersama anak-anak, berbagi, bahkan tak segan ikut memandikan dan menyuapi anak-anak.
Hal itu semula dilakukan empat siswa SMUN 4 Bandung--anak didik Yuli di sekolah-- yang sedang bermasalah dengan orangtuanya hingga berimbas ke konsentrasi belajar di sekolah. Kemudian, Yuli mengajak keempat siswa tersebut untuk bertandang ke rumahnya bertemu dengan bayi-bayi lucu itu.
Keempat siswa itu menginap di rumahnya. Tengah malam, mereka dibangunkan untuk menunaikan salat Tahajud di masjid. “Mereka ikut memandikan, memberi makan, menemani anak-anak bermain, dan ketika diceritakan asal usulnya mereka jadi termenung dan menyadari kesalahannya,” ujar Yuli.
Tak lama setelah itu, Yuli menerima banyak ucapan terimakasih dari para orangtua siswa yang pernah bertandang ke rumahnya. “Mereka telefon saya dan bertanya mengapa anaknya jadi berubah baik. Saya senang sekali mendengar hal itu,” ucapnya penuh rasa syukur. Kini, kunjungan serupa tidak hanya datang dari siswa-siswinya di SMUN 4, melainkan mahasiswa dan kalangan pendidik. (Lina Nursanty/”PR”)
Jumat, 04 Januari 2008
Mantan Aktivis
Mantan Aktivis
"KAU tahu? Di jalanan ini tujuh tahun lalu aku memimpin massa yang berasal dari kampung-kampung yang berada di belakang gedung dan toko-toko itu," ujar Samuel penuh semangat. Jari telunjuk kanannya menunjuk gedung-gedung, toko, bengkel, sekolah yang berderet dan satu per satu berlarian dibalik jendela mikrolet yang sedang mereka tumpangi. Duduknya berpindah-pindah, dengan semangat dari bangku panjang di hadapan Desi, kemudian pindah lagi ke bangku pendek dan duduk di samping Desi dengan posisi yang tidak sempurna seperti seharusnya penumpang mikrolet. Begitu terus sambil tak henti-hentinya mulutnya berbicara.
Ada beberapa nama orang terkenal yang ia sebut, ada jurnalis, sastrawan, politisi, ada juga orang terkenal yang ditahan karena korupsi. Sesekali Samuel menggeleng-gelengkan kepala, disusul bunyi decakan bernada kagum atas diri sendiri. Helaan nafas tak ketinggalan menyusul pula setelah itu dan akhirnya tertegun karena Desi menanggapinya dengan hanya terdiam, menaikkan kening hingga kedua mata Desi terlihat belo, dan tentu saja diikuti helaan nafas pula.
Penumpang lain yang juga berada dalam mikrolet itu saling bergantian melihat mereka karena penasaran. Raut muka para penumpang itu penuh selidik, ada juga yang tersenyum sinis setelah berhasil melihat wajah Samuel dan Desi. Seolah mereka akan puas setelah itu, kemudian kembali dengan lamunan masing-masing.
Setelah sekian lama Desi membisu dengan roma wajah kesal, ia menjawab, "Sam, aku sudah tahu. Kamu sudah berkali-kali menceritakan hal ini kepadaku setiap kali kita melewati jalanan ini. Dan aku tetap tidak bangga apalagi terkesan. Coba sebut lagi beberapa nama kawan-kawanmu itu!, bukankah aku sering mendengar nama mereka disebut-sebut di surat kabar dan TV?. Bukankah mereka itu orang yang memiliki pekerjaan, memiliki anak yang sekolah, memiliki rumah, tabungan, dan lain sebagainya? Mereka itu berhasil, Sam," jawab Desi atas semua kalimat yang disemburkan Samuel terhadapnya.
"Maksudmu, kamu mau bilang bahwa aku tidak berhasil? Berhasil macam apa maksudmu? Berhasil punya rumah, anak kita bisa sekolah, perhiasanmu lengkap, tidak utang sana-sini? Atau apa?, jawab!" Samuel menjawab kekesalan Desi dengan nada yang tinggi hingga memancing keingintahuan sopir mikrolet yang tampak dari kaca spion dalam mobil.
"Yaa, dari sekian orang yang memimpin massa itu, aku rasa hanya kamu yang berubah jadi pecundang seperti ini. Lihat, hingga saat ini tak jua kita punya rumah. Bayar sekolah anak selalu nunggak. Dan aku? Mana pernah kau belikan aku perhiasan? Sebenarnya aku sudah muak hidup dengan kamu. Aku bosan, aku ingin hidup…walau tak kaya, tapi tidak seperti ini. Kau mengerti?," tanya Desi menahan teriakannya.
Kedua mata Desi berkaca-kaca, jika satu kata lagi saja Desi berbicara, maka berhamburanlah air dari kedua matanya itu. Namun ia tahan, dan membungkukkan punggungnya hingga wajah yang ia tutup dengan kedua belah tangannya mengenai kedua paha yang ia rapatkan.
"Sudahlah, Dik. Malu, dilihat orang. Baiklah, kita turun saja dari mobil ini. Kita bicarakan di luar saja, oke?" ujar Samuel mencoba membujuk Desi setelah didesak oleh tatapan para penumpang yang makin padat dalam mobil. Tatapan itu seolah memaksa Samuel untuk menghentikan drama dalam mikrolet itu.
"Bukan satu atau dua kali kita berbicara mengenai hal ini. Selama ini aku sabar, Bang. Tapi kali ini, aku tak tahan lagi menahan semua ini. Percuma kita turun dari mikrolet ini, karena kita hanya akan meneruskan pertengkaran, dan tiap kali itu terjadi tidak pula masalah kita hilang!" kalimat yang terurai dari mulut mungil Desi diiringi linangan air mata yang sedikit demi sedikit akhirnya leleh juga hingga membasahi kedua pipinya.
"Dik, kau 'kan paham aku ini di-DO dari kampus ketika berjuang dulu. Sedangkan mereka tidak. Ketika situasi aman, mereka lebih mampu untuk survive. Tidak seperti aku. Meneruskan lagi kuliah biayanya mahal, dan dengan ijazah SMA saja, jadi apa aku kalau melamar kerja? Saingannya begitu banyak dan lebih fresh-fresh. Usiaku sudah hampir menginjak tiga puluh, tidak pula punya pengalaman kerja. Sudah untung aku diterima jadi pembantu di toko Om Eng, meski hanya bantu-bantu bikin pigura 'kan lumayan. Buktinya, kita belum mati kelaparan. Yaa... meski aku kadang bosan dengan pekerjaan itu, membuat otakku tidak terlatih. Jarang sekali aku bersentuhan dengan buku-buku, tak ada waktu untuk membaca. Hidupku teralienasi jika begini terus. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam. Upah hanya lima belas ribu saja sehari. Tak masuk kerja, tak dapat upah," jelas Samuel.
Tangisan Desi semakin mereda. Jalanan makin macet. Jam pulang sekolah, jalanan dipenuhi oleh ABG-ABG berpakaian putih abu-abu. Samuel duduk semakin merapat karena beberapa ABG itu naik ke dalam mikrolet dan walhasil makin sesak. Sesaat setelah itu, mikrolet kembali meluncur setelah diteriaki Pak Ogah yang sibuk mengatur lalu lintas. Setelah suasana dirasa enak, Samuel melanjutkan pembicaraannya. Desi masih tercenung, kedua matanya memerah, begitu pula hidungnya.
"Huh, lucu!. Lucu sekali. Dahulu aku sering berdiskusi teori keterasingan atau tentang alienasi itu, bersama kawan-kawan. Sembunyi-sembunyi, dik. Malam-malam sepulang buruh-buruh pabrik itu bekerja. Kami menyebutnya sekolah malam. Pesertanya ada juga mahasiswa, hmm...kau tahu si Eko yang kini jadi anggota DPR itu? Dulu dia itu salah satu mahasiswa S2 yang ikut sekolah malam yang kami adakan. Terus ada juga si Marmi, Terong, Kaca...ahh, pokoknya banyak.", Beberapa orang terkenal disebut-sebut lagi oleh Samuel.
"Kiri, Bang!.", seorang Bapak yang tambun tubuhnya setengah berteriak kepada sopir agar menghentikan mikrolet, rupanya ia sudah tiba di tempat tujuan. Setelah membayar ongkosnya, Bapak tersebut ngeloyor, begitu pula mikrolet yang mereka tumpangi kembali melanjutkan perjalanannya. Samuel agak terhenti bercerita karena kejadian itu, tetapi kemudian ia lanjutkan.
"Oya, Dik. Kau tahu? Tidak sampai lima tahun kami melakukan hal itu, penguasa negeri ini tumbang! Luar biasa, bukan? Kami sendiri sempat bingung, begitu cepat hal itu terjadi dan begitu besar rakyat yang bergabung dengan kami di jalanan. Setelah itu Demokrasi mulai menemui titik terangnya di negeri ini. Bernafas kembali setelah sekian lama tak dikehendaki.". Entah menyadarinya atau tidak, Samuel nampaknya tidak memperhatikan atau tidak mau memperhatikan Desi.
Ketat, Desi menggigit bibirnya sendiri. Sorot matanya tak tentu arah. Pelan suaranya hampir tak terdengar. "Bang, kita telah sampai. Aku tak butuh demokrasi, aku butuh uang untuk makan, bayar kontrakan dan bayar ongkos rumah sakit." Samuel baru tersadar bahwa mikrolet yang mereka tumpangi telah tiba di depan Rumah Sakit dimana buah hati mereka tengah terbaring di salah satu ruangannya karena diserang nyamuk demam berdarah.
Mereka berdua turun dari mikrolet menyisakan tanda tanya besar bagi para penumpang dalam mikrolet yang telah setia menyimak drama satu babak dalam mikrolet yang lumayan membuat penasaran apa yang akan terjadi setelah Samuel dan Desi turun dari mikrolet.
***
Cerpen itu aku tulis kira-kira awal tahun 2004. Terinsipirasi oleh laki-laki yang "dekat" denganku waktu itu.
"KAU tahu? Di jalanan ini tujuh tahun lalu aku memimpin massa yang berasal dari kampung-kampung yang berada di belakang gedung dan toko-toko itu," ujar Samuel penuh semangat. Jari telunjuk kanannya menunjuk gedung-gedung, toko, bengkel, sekolah yang berderet dan satu per satu berlarian dibalik jendela mikrolet yang sedang mereka tumpangi. Duduknya berpindah-pindah, dengan semangat dari bangku panjang di hadapan Desi, kemudian pindah lagi ke bangku pendek dan duduk di samping Desi dengan posisi yang tidak sempurna seperti seharusnya penumpang mikrolet. Begitu terus sambil tak henti-hentinya mulutnya berbicara.
Ada beberapa nama orang terkenal yang ia sebut, ada jurnalis, sastrawan, politisi, ada juga orang terkenal yang ditahan karena korupsi. Sesekali Samuel menggeleng-gelengkan kepala, disusul bunyi decakan bernada kagum atas diri sendiri. Helaan nafas tak ketinggalan menyusul pula setelah itu dan akhirnya tertegun karena Desi menanggapinya dengan hanya terdiam, menaikkan kening hingga kedua mata Desi terlihat belo, dan tentu saja diikuti helaan nafas pula.
Penumpang lain yang juga berada dalam mikrolet itu saling bergantian melihat mereka karena penasaran. Raut muka para penumpang itu penuh selidik, ada juga yang tersenyum sinis setelah berhasil melihat wajah Samuel dan Desi. Seolah mereka akan puas setelah itu, kemudian kembali dengan lamunan masing-masing.
Setelah sekian lama Desi membisu dengan roma wajah kesal, ia menjawab, "Sam, aku sudah tahu. Kamu sudah berkali-kali menceritakan hal ini kepadaku setiap kali kita melewati jalanan ini. Dan aku tetap tidak bangga apalagi terkesan. Coba sebut lagi beberapa nama kawan-kawanmu itu!, bukankah aku sering mendengar nama mereka disebut-sebut di surat kabar dan TV?. Bukankah mereka itu orang yang memiliki pekerjaan, memiliki anak yang sekolah, memiliki rumah, tabungan, dan lain sebagainya? Mereka itu berhasil, Sam," jawab Desi atas semua kalimat yang disemburkan Samuel terhadapnya.
"Maksudmu, kamu mau bilang bahwa aku tidak berhasil? Berhasil macam apa maksudmu? Berhasil punya rumah, anak kita bisa sekolah, perhiasanmu lengkap, tidak utang sana-sini? Atau apa?, jawab!" Samuel menjawab kekesalan Desi dengan nada yang tinggi hingga memancing keingintahuan sopir mikrolet yang tampak dari kaca spion dalam mobil.
"Yaa, dari sekian orang yang memimpin massa itu, aku rasa hanya kamu yang berubah jadi pecundang seperti ini. Lihat, hingga saat ini tak jua kita punya rumah. Bayar sekolah anak selalu nunggak. Dan aku? Mana pernah kau belikan aku perhiasan? Sebenarnya aku sudah muak hidup dengan kamu. Aku bosan, aku ingin hidup…walau tak kaya, tapi tidak seperti ini. Kau mengerti?," tanya Desi menahan teriakannya.
Kedua mata Desi berkaca-kaca, jika satu kata lagi saja Desi berbicara, maka berhamburanlah air dari kedua matanya itu. Namun ia tahan, dan membungkukkan punggungnya hingga wajah yang ia tutup dengan kedua belah tangannya mengenai kedua paha yang ia rapatkan.
"Sudahlah, Dik. Malu, dilihat orang. Baiklah, kita turun saja dari mobil ini. Kita bicarakan di luar saja, oke?" ujar Samuel mencoba membujuk Desi setelah didesak oleh tatapan para penumpang yang makin padat dalam mobil. Tatapan itu seolah memaksa Samuel untuk menghentikan drama dalam mikrolet itu.
"Bukan satu atau dua kali kita berbicara mengenai hal ini. Selama ini aku sabar, Bang. Tapi kali ini, aku tak tahan lagi menahan semua ini. Percuma kita turun dari mikrolet ini, karena kita hanya akan meneruskan pertengkaran, dan tiap kali itu terjadi tidak pula masalah kita hilang!" kalimat yang terurai dari mulut mungil Desi diiringi linangan air mata yang sedikit demi sedikit akhirnya leleh juga hingga membasahi kedua pipinya.
"Dik, kau 'kan paham aku ini di-DO dari kampus ketika berjuang dulu. Sedangkan mereka tidak. Ketika situasi aman, mereka lebih mampu untuk survive. Tidak seperti aku. Meneruskan lagi kuliah biayanya mahal, dan dengan ijazah SMA saja, jadi apa aku kalau melamar kerja? Saingannya begitu banyak dan lebih fresh-fresh. Usiaku sudah hampir menginjak tiga puluh, tidak pula punya pengalaman kerja. Sudah untung aku diterima jadi pembantu di toko Om Eng, meski hanya bantu-bantu bikin pigura 'kan lumayan. Buktinya, kita belum mati kelaparan. Yaa... meski aku kadang bosan dengan pekerjaan itu, membuat otakku tidak terlatih. Jarang sekali aku bersentuhan dengan buku-buku, tak ada waktu untuk membaca. Hidupku teralienasi jika begini terus. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam. Upah hanya lima belas ribu saja sehari. Tak masuk kerja, tak dapat upah," jelas Samuel.
Tangisan Desi semakin mereda. Jalanan makin macet. Jam pulang sekolah, jalanan dipenuhi oleh ABG-ABG berpakaian putih abu-abu. Samuel duduk semakin merapat karena beberapa ABG itu naik ke dalam mikrolet dan walhasil makin sesak. Sesaat setelah itu, mikrolet kembali meluncur setelah diteriaki Pak Ogah yang sibuk mengatur lalu lintas. Setelah suasana dirasa enak, Samuel melanjutkan pembicaraannya. Desi masih tercenung, kedua matanya memerah, begitu pula hidungnya.
"Huh, lucu!. Lucu sekali. Dahulu aku sering berdiskusi teori keterasingan atau tentang alienasi itu, bersama kawan-kawan. Sembunyi-sembunyi, dik. Malam-malam sepulang buruh-buruh pabrik itu bekerja. Kami menyebutnya sekolah malam. Pesertanya ada juga mahasiswa, hmm...kau tahu si Eko yang kini jadi anggota DPR itu? Dulu dia itu salah satu mahasiswa S2 yang ikut sekolah malam yang kami adakan. Terus ada juga si Marmi, Terong, Kaca...ahh, pokoknya banyak.", Beberapa orang terkenal disebut-sebut lagi oleh Samuel.
"Kiri, Bang!.", seorang Bapak yang tambun tubuhnya setengah berteriak kepada sopir agar menghentikan mikrolet, rupanya ia sudah tiba di tempat tujuan. Setelah membayar ongkosnya, Bapak tersebut ngeloyor, begitu pula mikrolet yang mereka tumpangi kembali melanjutkan perjalanannya. Samuel agak terhenti bercerita karena kejadian itu, tetapi kemudian ia lanjutkan.
"Oya, Dik. Kau tahu? Tidak sampai lima tahun kami melakukan hal itu, penguasa negeri ini tumbang! Luar biasa, bukan? Kami sendiri sempat bingung, begitu cepat hal itu terjadi dan begitu besar rakyat yang bergabung dengan kami di jalanan. Setelah itu Demokrasi mulai menemui titik terangnya di negeri ini. Bernafas kembali setelah sekian lama tak dikehendaki.". Entah menyadarinya atau tidak, Samuel nampaknya tidak memperhatikan atau tidak mau memperhatikan Desi.
Ketat, Desi menggigit bibirnya sendiri. Sorot matanya tak tentu arah. Pelan suaranya hampir tak terdengar. "Bang, kita telah sampai. Aku tak butuh demokrasi, aku butuh uang untuk makan, bayar kontrakan dan bayar ongkos rumah sakit." Samuel baru tersadar bahwa mikrolet yang mereka tumpangi telah tiba di depan Rumah Sakit dimana buah hati mereka tengah terbaring di salah satu ruangannya karena diserang nyamuk demam berdarah.
Mereka berdua turun dari mikrolet menyisakan tanda tanya besar bagi para penumpang dalam mikrolet yang telah setia menyimak drama satu babak dalam mikrolet yang lumayan membuat penasaran apa yang akan terjadi setelah Samuel dan Desi turun dari mikrolet.
***
Cerpen itu aku tulis kira-kira awal tahun 2004. Terinsipirasi oleh laki-laki yang "dekat" denganku waktu itu.
Selasa, 01 Januari 2008
Adis Fathoni, Pahlawan Siswa
KURNAWAN (14) duduk tertegun disamping jasad Adis Fathoni (14) yang terbujur kaku. Pagi itu, Kamis (9/2) pukul 09.30 WIB, seperti biasa, ia menunggu Adis untuk berangkat ke sekolah bersama-sama. Menanti Adis tak kunjung tiba, bocah laki-laki yang duduk di bangku kelas II SMP Terbuka SAAR di Kec. Sindang Kerta itu dikejutkan dengan kabar bahwa kawan karibnya tewas tertimpa tanah longsor di Bukit Cikuray ketika sedang menggali pasir.
Ibunda Adis, Titin (29), sebelumnya memperingatkan Adis segera pergi ke sekolah karena waktu hampir pukul 09.00 WIB. “Kagok, Mak. Dugi dua blek. Meh aya bekel sakola,” ujar Titin mengisahkan apa yang diucapkan Adis sesaat sebelum himpitan tanah merah dan batu cadas merenggut nyawanya. Ketika dievakuasi, tubuh Adis sudah terkubur dalam posisi meringkuk.
Untuk tiba di sekolahnya, Kurnawan dan Adis harus berjalan sekira dua setengah jam menapaki jalan koral berbatu yang licin bercampur tanah jika turun hujan. Karena jika naik ojek, mereka harus rela merogoh uang sebesar Rp 10.000,00 sekali jalan. “Itu pun ojeknya jarang,” ujar Kurnawan.
Dengan dua blek pasir, tadinya Adis berharap bisa memperoleh uang saku sebesar Rp 2.000,00 agar bisa membeli roti isi pisang kesukaannya di sekolah.
Menahan tangis, Ari bercerita bahwa Adis adalah harapan satu-satunya di keluarga untuk membantu perekonomian keluarga. Kini, tinggal ia, isteri dan Orin Rahmawati yang masih berusia tujuh tahun menempati rumah panggung yang telah mereka tempati sejak sebelas tahun lalu.
Adis yang semasa hidupnya sangat gemar Matematika itu pernah mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke salah satu SMU di daerah Cililin pada Kurnawan. Namun, ayahnya memendam keinginan lain yaitu agar Adis dapat segera bekerja di kota.
“Banyak teman saya di kota yang meminta dia untuk bekerja, karena anaknya rajin,” tutur Ari lagi. Ari dan Titin mengaku pasrah dan menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. “Dihenteu-henteu oge da tos kieu, teu tiasa kukumaha deui,” ujar Titin lirih.
Sementara, korban tewas Anisha, bocah perempuan 3,5 tahun itu dibawaserta neneknya, Uun (41) dan Ayat (42) untuk menggali pasir. “Lantaran di bumi teu aya sasaha, jadi barudak dicandak ka pasir. Nuju ngariuhan da hujan, ari pek taneuh jol longsor nimpa barudak,” ujar Ayat (42), sambil menahan tangis.
Orangtua Anisha yang telah berpisah memaksa kakek neneknya untuk membesarkan Anisha. Uun histeris ketika lafadz keagungan Allah diucapkan oleh kerabat yang menyemayamkan jenazah Anisha.
“Hampura, Enin, Neng, Hampura..,” jerit Uun yang masih menderita luka berat karena tertimpa tanah longsor juga. Ayat yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengisahkan bahwa cucu keduanya itu bersikeras ingin digendong neneknya pada saat menggali pasir.
Letak rumah yang berjauhan diantara kebun dan semak belukar di daerah terjal berbatu itu kini kian sunyi. Ayat, Uun, dan kerabat lainnya tak dapat lagi mendengar rengekan manja bocah manis Anisha. Dan Kurnawan harus rela berangkat sekolah berjalan kaki seorang diri, dua jam setengah. (LINA NURSANTY/”PR”) ***
Sepulang dari Desa Karya Mukti, aku sering gampang dibuat marah dan jengkel kalau mendengar adik-adik sepupuku malas belajar. Saking jengkelnya, sampai sekarang aku masih enggan berkomunikasi dengan salah satu adik sepupuku, Tia. Dia lebih memilih berhenti sekolah ketika kelas 1 SMA karena takut musuh gengnya di sekolah. Tia salah gaul. Aku sebal. Dia bikin geng-gengan di sekolahnya, terus satu per satu anggota gengnya keluar karena berbagai alasan. Eh, dia ikut-ikutan berhenti sekolah.
Aku harap, adik-adikku yang lain bisa merenung setelah membaca tulisanku di atas. Itu kisah nyata. Adis Fathoni, suatu saat dunia akan mengenang kamu sebagai pahlawan siswa, satu figur yang Indonesia miskin. Selama ini, kita baru kenal Denias. Di Cililin, ada Adis Fathoni!!!
-lina
Ibunda Adis, Titin (29), sebelumnya memperingatkan Adis segera pergi ke sekolah karena waktu hampir pukul 09.00 WIB. “Kagok, Mak. Dugi dua blek. Meh aya bekel sakola,” ujar Titin mengisahkan apa yang diucapkan Adis sesaat sebelum himpitan tanah merah dan batu cadas merenggut nyawanya. Ketika dievakuasi, tubuh Adis sudah terkubur dalam posisi meringkuk.
Untuk tiba di sekolahnya, Kurnawan dan Adis harus berjalan sekira dua setengah jam menapaki jalan koral berbatu yang licin bercampur tanah jika turun hujan. Karena jika naik ojek, mereka harus rela merogoh uang sebesar Rp 10.000,00 sekali jalan. “Itu pun ojeknya jarang,” ujar Kurnawan.
Dengan dua blek pasir, tadinya Adis berharap bisa memperoleh uang saku sebesar Rp 2.000,00 agar bisa membeli roti isi pisang kesukaannya di sekolah.
Menahan tangis, Ari bercerita bahwa Adis adalah harapan satu-satunya di keluarga untuk membantu perekonomian keluarga. Kini, tinggal ia, isteri dan Orin Rahmawati yang masih berusia tujuh tahun menempati rumah panggung yang telah mereka tempati sejak sebelas tahun lalu.
Adis yang semasa hidupnya sangat gemar Matematika itu pernah mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke salah satu SMU di daerah Cililin pada Kurnawan. Namun, ayahnya memendam keinginan lain yaitu agar Adis dapat segera bekerja di kota.
“Banyak teman saya di kota yang meminta dia untuk bekerja, karena anaknya rajin,” tutur Ari lagi. Ari dan Titin mengaku pasrah dan menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. “Dihenteu-henteu oge da tos kieu, teu tiasa kukumaha deui,” ujar Titin lirih.
Sementara, korban tewas Anisha, bocah perempuan 3,5 tahun itu dibawaserta neneknya, Uun (41) dan Ayat (42) untuk menggali pasir. “Lantaran di bumi teu aya sasaha, jadi barudak dicandak ka pasir. Nuju ngariuhan da hujan, ari pek taneuh jol longsor nimpa barudak,” ujar Ayat (42), sambil menahan tangis.
Orangtua Anisha yang telah berpisah memaksa kakek neneknya untuk membesarkan Anisha. Uun histeris ketika lafadz keagungan Allah diucapkan oleh kerabat yang menyemayamkan jenazah Anisha.
“Hampura, Enin, Neng, Hampura..,” jerit Uun yang masih menderita luka berat karena tertimpa tanah longsor juga. Ayat yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu mengisahkan bahwa cucu keduanya itu bersikeras ingin digendong neneknya pada saat menggali pasir.
Letak rumah yang berjauhan diantara kebun dan semak belukar di daerah terjal berbatu itu kini kian sunyi. Ayat, Uun, dan kerabat lainnya tak dapat lagi mendengar rengekan manja bocah manis Anisha. Dan Kurnawan harus rela berangkat sekolah berjalan kaki seorang diri, dua jam setengah. (LINA NURSANTY/”PR”) ***
Sepulang dari Desa Karya Mukti, aku sering gampang dibuat marah dan jengkel kalau mendengar adik-adik sepupuku malas belajar. Saking jengkelnya, sampai sekarang aku masih enggan berkomunikasi dengan salah satu adik sepupuku, Tia. Dia lebih memilih berhenti sekolah ketika kelas 1 SMA karena takut musuh gengnya di sekolah. Tia salah gaul. Aku sebal. Dia bikin geng-gengan di sekolahnya, terus satu per satu anggota gengnya keluar karena berbagai alasan. Eh, dia ikut-ikutan berhenti sekolah.
Aku harap, adik-adikku yang lain bisa merenung setelah membaca tulisanku di atas. Itu kisah nyata. Adis Fathoni, suatu saat dunia akan mengenang kamu sebagai pahlawan siswa, satu figur yang Indonesia miskin. Selama ini, kita baru kenal Denias. Di Cililin, ada Adis Fathoni!!!
-lina
Aminah dan Kerupuk Susu
AWALNYA Aminah hanya iseng untuk memanfaatkan susu sapi piaraannya yang telah pecah dan tidak dapat dijual ke Koperasi Susu di Pangalengan. Ia bereksperimen memadukan susu pecahnya itu dengan tepung tapioka untuk dibuat makanan berjenis kerupuk.
“Ku ibu dicobian didamel kurupuk nuju ngempel sareng ibu-ibu PKK, eh, dugi ka ayeuna janten nafkah utama (Oleh saya dicoba dibuat menjadi kerupuk pada waktu berkumpul bersama ibu-ibu PKK, eh, sampai sekarang menjadi nafkah utama),” katanya ketika ditemui “PR” di rumahnya di Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, Senin (10/4).
Kini, kerupuk susu yang rasanya gurih ini banyak dijual di kios-kios sepanjang Jalan Raya Pangalengan, Kab. Bandung. Mengusung merek “ANM”, Aminah berkibar sebagai satu-satunya produsen kerupuk susu yang menjadi salah satu makanan khas Pangalengan dan kerap dijadikan oleh-oleh.
Penganan khas buatannya ini bahkan pernah dibawa hingga ke negeri Sakura. “Dulu, ada yang pesen 200 bungkus, katanya untuk oleh-oleh ke Jepang,” ucapnya. Ditemani putri sulungnya, Ai Holiah (37) dan suaminya, Aminah mengerjakan setiap pesanan yang datang.
Sebanyak 50 kilogram tepung tapioka dicampur dengan 20 liter susu sapi pecah untuk dijadikan adonan. Setelah itu, dibentuk kotak seukuran batu-bata untuk kemudian diiris-iris menggunakan sugu agar diperoleh potongan yang tipis. Tahap akhir pembuatan kerupuk adalah dijemur dan dikemas dalam kantong plastik yang berlabelkan mereknya.
Adonan dengan perbandingan antara tapioka dan susu dua banding lima itu, bisa diolah menjadi 300 bungkus kerupuk susu yang ia jual seharga Rp 2.000,00 per bungkusnya.
Awal merintis usaha kerupuk susu pada tahun 1989, animo pasar cukup menggembirakan. Bisa sampai 100 bungkus kerupuk susu per harinya berhasil dipasarkan. Bahkan, para pembeli mengantre di rumahnya. Pada saat itu, kisahnya, ia mampu memenuhi permintaan dari 70 kios yang tersebar di Pangalengan dan Ciwidey.
Tidak heran, setelah enam ekor sapi perahnya dijual, ia tetap bisa bertahan hidup bersama keluarga, bahkan mampu menyekolahkan putra bungsunya ke perguruan tinggi negeri di Bogor. Selain dianggap tidak menguntungkan lagi, tidak ada satu pun dari kelima anaknya yang lihai mengurus sapi seperti halnya sang kepala keluarga, Anin (65).
Sejak tahun 2000, banyak pengusaha yang membuat kerupuk susu seperti buatannya. “Kebanyakan mereka awalnya ikut bantu-bantu di tempat saya, sekarang mereka buka sendiri,” katanya. Pelanggan Aminah pun banyak yang berpindah. Selain modal yang sedikit, aku Aminah, banyaknya saingan turut memperpuruk usahanya.
Dari 70 kios yang ia pasok, kini tinggal lima kios saja. “Dulu, bikin kerupuk tiap hari, sekarang paling seminggu sekali atau dua kali,” katanya. Omzetnya pun menurun drastis hingga 50 persen, dari pesanan 100 bungkus per hari, kini hanya 300 bungkus per minggu.
Aminah memiliki cita-cita agar produknya yang telah disertifikasi Departemen Kesehatan (Depkes) ini, mendapat bantuan modal dan pemasaran. “Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu masalah ini,” ucapnya lirih. (Lina Nursanty/ “PR”)
Tulisan ini tidak sempat dimuat "PR". Padahal, Aminah dan anaknya itu sangat berharap agar jeritannya didengar pemerintah. Ketika wawancara, aku merasa terbebani karena mereka berulangkali menyatakan kegembiraannya dikunjungi wartawan. Sepertinya, bahuku ini terlihat "lebar" di mata mereka. Ujung pena dan block note kecil yang kubawa adalah harapan besar bagi mereka.
Tulisan ini tidak sempat dimuat "PR". Bahkan, hingga Aminah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Aku terkejut ketika mendengar kabar itu. Aku menyesal, aku tak berani mengunjungi rumahnya untuk menyatakan belasungkawa. Aku hanya bisa memanjatkan do'a agar harapannya terhadapku dulu itu dipenuhi oleh Tuhan dengan caraNya. Amien...
“Ku ibu dicobian didamel kurupuk nuju ngempel sareng ibu-ibu PKK, eh, dugi ka ayeuna janten nafkah utama (Oleh saya dicoba dibuat menjadi kerupuk pada waktu berkumpul bersama ibu-ibu PKK, eh, sampai sekarang menjadi nafkah utama),” katanya ketika ditemui “PR” di rumahnya di Kec. Pangalengan, Kab. Bandung, Senin (10/4).
Kini, kerupuk susu yang rasanya gurih ini banyak dijual di kios-kios sepanjang Jalan Raya Pangalengan, Kab. Bandung. Mengusung merek “ANM”, Aminah berkibar sebagai satu-satunya produsen kerupuk susu yang menjadi salah satu makanan khas Pangalengan dan kerap dijadikan oleh-oleh.
Penganan khas buatannya ini bahkan pernah dibawa hingga ke negeri Sakura. “Dulu, ada yang pesen 200 bungkus, katanya untuk oleh-oleh ke Jepang,” ucapnya. Ditemani putri sulungnya, Ai Holiah (37) dan suaminya, Aminah mengerjakan setiap pesanan yang datang.
Sebanyak 50 kilogram tepung tapioka dicampur dengan 20 liter susu sapi pecah untuk dijadikan adonan. Setelah itu, dibentuk kotak seukuran batu-bata untuk kemudian diiris-iris menggunakan sugu agar diperoleh potongan yang tipis. Tahap akhir pembuatan kerupuk adalah dijemur dan dikemas dalam kantong plastik yang berlabelkan mereknya.
Adonan dengan perbandingan antara tapioka dan susu dua banding lima itu, bisa diolah menjadi 300 bungkus kerupuk susu yang ia jual seharga Rp 2.000,00 per bungkusnya.
Awal merintis usaha kerupuk susu pada tahun 1989, animo pasar cukup menggembirakan. Bisa sampai 100 bungkus kerupuk susu per harinya berhasil dipasarkan. Bahkan, para pembeli mengantre di rumahnya. Pada saat itu, kisahnya, ia mampu memenuhi permintaan dari 70 kios yang tersebar di Pangalengan dan Ciwidey.
Tidak heran, setelah enam ekor sapi perahnya dijual, ia tetap bisa bertahan hidup bersama keluarga, bahkan mampu menyekolahkan putra bungsunya ke perguruan tinggi negeri di Bogor. Selain dianggap tidak menguntungkan lagi, tidak ada satu pun dari kelima anaknya yang lihai mengurus sapi seperti halnya sang kepala keluarga, Anin (65).
Sejak tahun 2000, banyak pengusaha yang membuat kerupuk susu seperti buatannya. “Kebanyakan mereka awalnya ikut bantu-bantu di tempat saya, sekarang mereka buka sendiri,” katanya. Pelanggan Aminah pun banyak yang berpindah. Selain modal yang sedikit, aku Aminah, banyaknya saingan turut memperpuruk usahanya.
Dari 70 kios yang ia pasok, kini tinggal lima kios saja. “Dulu, bikin kerupuk tiap hari, sekarang paling seminggu sekali atau dua kali,” katanya. Omzetnya pun menurun drastis hingga 50 persen, dari pesanan 100 bungkus per hari, kini hanya 300 bungkus per minggu.
Aminah memiliki cita-cita agar produknya yang telah disertifikasi Departemen Kesehatan (Depkes) ini, mendapat bantuan modal dan pemasaran. “Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu masalah ini,” ucapnya lirih. (Lina Nursanty/ “PR”)
Tulisan ini tidak sempat dimuat "PR". Padahal, Aminah dan anaknya itu sangat berharap agar jeritannya didengar pemerintah. Ketika wawancara, aku merasa terbebani karena mereka berulangkali menyatakan kegembiraannya dikunjungi wartawan. Sepertinya, bahuku ini terlihat "lebar" di mata mereka. Ujung pena dan block note kecil yang kubawa adalah harapan besar bagi mereka.
Tulisan ini tidak sempat dimuat "PR". Bahkan, hingga Aminah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Aku terkejut ketika mendengar kabar itu. Aku menyesal, aku tak berani mengunjungi rumahnya untuk menyatakan belasungkawa. Aku hanya bisa memanjatkan do'a agar harapannya terhadapku dulu itu dipenuhi oleh Tuhan dengan caraNya. Amien...
Langgan:
Entri (Atom)